Memorial Kenaikan Tingkat DKD 1 dan 2


Ujian Kenaikan Tingkat Dewan Kerabat

11 – 12 Agustus 2007

Masjid Annur Sangkal Putung – Lapangan Plampeyan Jatinom


Malam itu Tanggal 5 Agustus 2007 di Gedung Sierad PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) Klaten dipenuhi anggota arisan Surya Kencana. Dewan Kerabat yang dengan rutin menjadi team keamanan prosesi arisan sedang mengatur lalu lintas di depan gedung itu. Di sebelah timur ada Iwan, Edi dan Dhani. Di depan tepat gedung ada Fatkhur, Miftah, dan Hudha. Dan di sebelah barat ada Zie, Endriawan dan Sartono. Mereka bertugas dengan seragam HW lengkap.

Pengamanan jalan berjalan dengan tertib dan keadaan jalan pun lancar. Mereka dengan nyantai berbincang-bincang sambil tetap waspada terhadap keadaan jalan. Zie, Endri dan Sartono nampak asyik bercakap.

Mereka sedikit membicarakan masalah yang terjadi dalam DKD. Endri dan Sartono mempunyai gagasan untuk mengadakan sebuah kegiatan. Zie menawarkan untuk pengadaan ujian kenaikan tingkat Dewan Kerabat dengan sistem Survival dan Dinamika Kelompok. Nampaknya mereka bertiga setuju dan sedikit mempunyai gambaran tentang acara apa saja dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Acara arisan Surya Kencana berakhir dengan tertib dan lancar. Dengan mobil PDM yang digunakan untuk mengangkut tanah saat pembangunan gedung tambahan PDM, para Dewan Kerabat menuju Srago untuk cari makan malam. Makan malam selesai dan mereka kembali ke Gedung Sierad PDM.

Zie mengajak rekan-rekannya untuk sharing. Dhani pulang dulu sehingga hanya mereka bedelapan yang rapat kecil itu. Zie mengungkapkan rencana kegiatan ujian kenaikan tingkat itu pada rapat itu. Nampaknya ada tanggapan positif dari rekan-rekannya. Setelah sepakat untuk pengadaan acara tersebut, langsung dibahas waktu, tempat, system acara dan pembagian tugas dan pembentukan panitia pelaksana. Kemudian disepakati tanggal 11 – 12 Agustus 2007. Sehingga hanya ada 1 minggu tepat untuk pengadaan acara tersebut. Dibentuklah panitia dengan ketua Rakanda Giyono dengan Wakil Burhanudin, Zie sebagai Sekretaris dengan wakil Miftahurrozaq dan Iwan sebagai bendahara.

Akhirnya disepakati sistem acara tersebut dengan system dinamika kelompok dan survival. Yaitu makan minum semua peserta maupun panitia ditanggung sendiri. Peserta dan panitia berjalan dari Masjid Annur Sangkal Putung sampai lapangan Plampeyan Jatinom. Karena Miftah sebagai orang Jatinom dapat mengurus perijinan tempat dengan cepat. Meskipun acara tersebut sudah tersusun dengan rapi, namun masih diperlukan untuk acara tersebut (mulai dari proposal sampai blangko-blangko pendaftaran). Jam 8.00 Zie berangkat kerja dan jam 10.30 Zie ijin untuk rapat Kwarda HW Klaten dalam rangka persiapan karnaval memperingati HUT RI ke 62 dan persiapan Jambore Penghela ke 2 di Karangayar. Rapat berakahir dengan putusan-putusan yang memuaskan dan sebelum rapat diakhiri Zie minta do'a restu dalam pengadaan acara Ujian Kenaikan Tingkat Dewan Kerabat. Kwarda dan para pembina setuju dam memberikan do'a restu.

Zie mulai menyempurnakan proposal dengan anggarannya. Tanggal 7 ada rapat kembali di Gedung Sierad untuk acara lanjutan dan mengundang semua panitia. Panitia yang tercatat dalam kepanitiaan hanya 9 orang. Meskipun demikian diharapkan kegiatan bisa maksimal mungkin. Proposal disempurnakan kembali dan perencaaan surat-surat, mulai surat undangan perserta sampai surat-surat perijinan sehingga tanggal 8 harus bisa beredar. Tanggal 8 itu Miftah dapat menyelesaiakan perijinan dan jam 14.00 diadakan latihan drumband sekaligus technical meeting.

Sesuai Undang-undang Pandu HW no. 7 siap melaksanakan perintah dengan ikhlas, para peserta siap atas ujian itu. Para peserta mempersiapkan segala sesuatunya dalam acara tersebut. Perlengkapan yang dibawa : Seragam HW lengkap, kaos Dewan Kerabat, pakaian pribadi, pakaian ibadah, makan minum instant pribadi, obat pribadi, tongkat 1 buah, tali 2 buah, mantol 2 buah, dan iuran gotong royong Rp. 10.000,-.

Sabtu, 11 Agustus 2007 jam 14.00 Waktu setempat para peserta datang di area Masjid Annur Sangkal Putung. Iwan dan Rio siap dengan blangko pendaftaran dan kuitansi pendaftaran siap di depan halaman STAIM Klaten. Dewan Kerabat putra ada 21 dan putri 13. Mereka berseragam HW lengkap. Putra bersepatu PDL dan putrid dengan PDH. Namun ada 2 putra yang tidak memakai sepatu PDL.

Adzan ashar dikumandangkan. Semua panitia dan peserta sholat di Masjid Annur. Jam 15.30 Zie mengumpulkan semua peserta untuk memberikan penjelasan kegiatan dan pembagian kelompok. Putra menjadi 3 kelompok dan putri menjadi 2 kelompok. Masing-masing kelompok diberikan 1 telur untuk dijaga dari awal sampai kegiatan berakhir jangan sampai telur itu pecah. Telur itu sebagai simbol amanah Dewan Kerabat yang diberikan kepada mereka. Terpilihlah ketua dari masing-masing kelompok yaitu Hudha, Wawan, Agus, Ummi dan Kiki. Sementara itu Miftah, Iwan, Fatkhur, Rio, dan Sholikhin sebagai panitia mengumpulkan bahan makanan dan minuman instant peserta yang telah mereka keluarkan dari dalam tas. Sehingga setiap peserta hanya dibekali 1 bungkus supermi dan 1 botol air minum.

Apel pembukaan dimulai. Dan dibuka oleh ketua panitia kegiatan Rakanda Giyono. Sebelum berangkat sebagai sarapannya push up 20 kali untuk putra dan duduk berdiri untuk putri 20 kali sambil meneriakkan kata HW!!!. Namun bagi yang tidak memakai sepatu PDL tambah 10 lagi. Jam 16.30 para peserta dan panitia berangkat ke lapangan Jatinom dengan berbaris rapi. Rakanda Giyono berada paling depan bersama Sartono dan Miftah. Ditengah Rio dan Iwan dan paling berlakang Sholikhin, Fatkhur dan Zie.

Dalam perjalanan mereka sambil bernyanyi-nyanyi. Adzan magrib dikumandangkan, peserta dan panitia sampailah pada sekolahan Muhammadiyah yaitu SMP Muhammadiyah 5 Ngupit. Sartono yang sudah berdiri ditengah halaman menyambut kedatangan mereka. Kemudian setelah sampai semua, dengan berjamaah mereka sholat maghrib di Masjid Attaawun yang berada di utara SMP Muhammadiyah 5 Ngupit itu. Setelah selesai dikumpulkan kembali Zie dan Miftah. Para peserta diperintahkan untuk membuat bivak (tempat perlindungan). 10 menit mereka mendirikan bivak tersebut dan peluit dibunyikan tanda mereka berkumpul. Ada instruksi yang kedua untuk makan. Mereka makan seadanya. Mereka makan mie instant. Panitia pun juga demikian. 5 menit mereka makan dan peluit kembali dibunyikan. Mereka ngaji tafsir yang dipimpin oleh Rakanda Giyono. Selang 15 menit, adzan isya terkumandangkan di Masjid Attaawun. Mereka mengakhiri ngaji dan melaksanakan sholat isya secara berjamaah.

Sholat isya selesai dan ada perintah untuk membongkar bivak mereka untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum berangkat Zie bersama panitia lain mengadakan perngecekan. Bagi yang tidak memakai sepatu PDL menemui Burhan yang belum lama tiba karena dirumahnya ada tugas, sehingga mendapat sanksi kembali untuk mencari buah talok sebanyak 10 buah. Setelah di cek ulang telur dua kelompok pecah sebelum sampai di SMP 5 Ngupit itu, sehingga oleh Miftah mendapat tugas untuk mencari buah talok masing-masing 5 buah. Setelah semua tugas selesai Fathkur membagikan multivitamin kepada peserta. Ada beberapa yang alergi dingin sehingga Fatkhur sebagai Petugas PP dengan sigap mengatasi masalah tersebut. Karena telur tim pecah maka digantikan dengan sebuah air berwarna hijau yang dimasukkan dalam aqua gelas. Mereka harus menjaga sampai kegiatan berakhir.

Mereka melanjutkan perjalanan kembali. Ditengah perjalanan ada instruksi kalau ada 1 bunyi peluit mereka berjalan biasa, 2 kali peluit tanda mereka harus berjalan jongkok, dan peluit 3 kali mereka harus merayap. Dewan Kerabat yang tangguh melaksanakan perintah dengan ikhlas. Sampai dipinggir sungai pepe dengan hati-hati mereka turun dari tebing. Namun salah satu dari panitia yang bernama sholikhin mungkin kurang hati-hati jatuh sehingga dengan loncat harimaunya akhirnya dia mendarat dengan sempurna. Meskipun demikian pakaiannya kotor. Dibelakang nampak 4 orang panitia ; Burhan, Miftah, Rio dan Zie. Karena Zie tidak membawa peneranhgan sehingga Zie turun duluan dengan hati-hati. Zie agak kaget karena tanah di bawah basah sehingga mengotori sepatunya. Pada saat itu Rio mengejeknya dengan pedenya sambil memperlihatkan sepatu but yang dipakainya. Rio turun dengan sempurna namun salah jalur. Satu loncatan salah sasaran sehingga terperosok dalam lubang. Seluruh anggota badannya masuk ke lubang itu. Dengan takut Rio tidak berucap apa-apa. Zie tidak begitu tahu suara keras yang mengusik telinganya itu. Ternyata setelah didekati kepala Rio menongol sambil mengulurkan tangannya. Zie menarik tangannya untuk bisa naik dari lubang itu. Sementara Miftah dan Burhan yang masih berada di atas tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Rio. Makanya jadi orang jangan usil gitu. Ujar mereka.

Dengan khidmat mereka melanjutkan perjalanan kembali. Sampai di desa Mao Zie yang berada dibelakang bersama Fakhur dan Iwan menyapa penduduk desa. Akhirnya terjadi komunikasi singkat, namun membawa berkah bagi mereka bertiga. Mereka mendapat minuman dingin dan sebungkus roti pisang, yang memang pada saat itu perut mereka sudah bernyanyi. Mereka berterima kasih dan melanjutkan perjalanan.

Mereka melanjutkan perjalanan. Setiba di Jolotundo, para peserta yang kehabisan air minum diberi kesempatan untuk mencari air sumber yang bersih untuk bisa diminum. Diperjalanan mereka terus bernyanyi dan bersuka ria, hingga akhirnya mereka hampir mencapai finish. Peserta yang dipimpin oleh Rakanda Giyono dan Burhan terus melanjutkan sampai pada finish. Namun Miftah dan Zie menunggu Iwan dan Rio yang mengambil ketela di rumah Miftah. Ternyata dengan motor, Iwan dan Rio juga membawa 2 tenda yang sangat berat. Akhirnya dibagi menjadi dua. Ketela dan Iwan dan Rio, tenda dan perbekalan dibawa Miftah dan Zie.

Jam 22.30 semua tiba di lapangan Plampeyan. Semua dikumpulkan Zie untuk menerima penjelasan. Diinstruksikan kepada seluruh peserta untuk membuat bivak kemudian kalau ada yang merasa lapar panitia menyiapkan ketela. Para peserta putra mendirikan bivak di sebelah barat dan putri disebelah timur. Sebagian panitia bakar ketela disebelah selatan menara didekat tanaman bambu. Pendirian bivak selesai dan para peserta pun bakar ketela sesuai dengan kelompoknya. Ramanda H. Sukasno malam itu bersama aktifis tapak suci datang mampir dari pengajian. Dan memberikan masukan untuk kegiatan untuk besok pagi. Beliau membawakan makanan dan dibagi rata peserta dan panitia. Tak berapa lama beliau pamit.

Jam 00.00 waktu setempat semua peserta diinstruksikan untuk tidur. Tak berapa lama pun suasana hening, menikmati lelahnya perjalanan itu. Namun ada beberapa panitia tidak tidur untuk menjaga keamanan kegiatan itu. Jam 2.30 semua panitia bangun untuk mempersiapkan pengambilan badge Dewan Kerabat. Dibagi 2 kelompok yaitu untuk pengambilan badge Dewan kerabat yang sudah mengikuti PPDK (Pelatihan Pengelolaan Dewan Kerabat) dan pengambilan badge Jawa Tengah untuk yang belum mengikuti PPDK. Pengambilan badge Jateng ditangani oleh Zie, Iwan dan Fatkhur. Sedang untuk yang pengambilan badge Dewan Kerabat ditangani oleh Rakanda Giyono, Miftah, Burhan, Sartono, Rio dan Sholikhin.

Jumlah yang mengambil bagde Jateng ada 8 peserta. Kedelapan peserta tersebut ditutup matanya dan menunggu giliran. Bagi yang telah mendapat giliran dibuka penutup matanya dan mengambil badge dipesisir makam yang harus melewati tangga yang sangat tinggi. Mereka mengambil dengan sendiri-sendiri. Setelah masing-masing mendapatkan badge tersebut diperintahkan untuk mengambil air wudu dan melaksanakan sholat lail.

Sedangkan yang mengambil badge Dewan Kerabat ada 24 peserta. Semua peserta diberikan waktu untuk mengambil air wudhu di sungai. Karena proses pengambilan badge tersebut setelah mereka melaksanakan sholat jenazah. Setelah semua sudah berwudlu, mata mereka ditutup dengan hasduk mereka masing-masing dan menunggu giliran. Setiap peserta harus berjalan menuju tempat terdapat jenazah yang sudah dipersiapkan panitia (panitia membuat jenazah dari tenda, dibuat persis seperti jenazah yang terkafani dan ditutup dengan kain jarik yang diberi wangi-wangian). Mereka berjalan kurang lebih 1 km untuk menuju ke jenazah tersebut. Mereka mensholatkan jenazah tersebut dengan suara jahr dan setelah selesai sholat mereka mengambil badge yang terletak dibawah jenazah tersebut. Panitia memberikan kode ke panitia yang harus ijin dulu kepada Kwarda untuk pengadaan acara tersebut, karena biar bagaimanapun juga Dewan Kerabat adalah Anak dari Kwarda.

Rapat berakhir jam 23.45, kemudian mereka tidur bersama. Jam 5 mereka bangun untuk sholat kemudian pulang kerumah masing-masing. Sesampai dirumah Zie mendesaign semua berkas-berkas yang

lain untuk menandakan peserta satu sudah selesai melaksanakan tugas tersebut dan peserta dua siap untuk dibuka penutup matanya dan siap untuk melaksanakan tugas tersebut.

Setelah masing-masing peserta melaksanakan tugas tersebut, mereka mengambil peralatan ibadah untuk melaksanakan sholat lail. Ada 3 peserta yang tidak mendapatkan badge, karena mereka takut denganjenazah itu. Sehingga 2 peserta tidak berani mengambil bagde tersebut, yang 1 peserta mencari dari ujung kepala sampai ujung kaki namun tidak ketemu. Dengan syarat tertentu akhirnya mereka dikasihkan badge tersebut.

Adzan subuh dikumandangkan di Masjid Besar Jatinom yang tidak jauh dari lokasi dari lapangan. Semua peserta dan panitia segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat berjamaah dimasjid tersebut bersama-sama dengan masyarakat. Jam 05.00 setelah sholat mereka melaksanakan olahraga yang dipimpin oleh Zie, kemudian dilanjutkan PBB oleh Rakanda Giyono sampai jam 6.30. kemudian mereka diberi waktu 45 menit untuk mandi.

Mereka mandi di Sekolahan SMP Muhammadiyah 2 Jatinom dan di Masjid Besar dan sebagian putra ada yang mandi di sungai. Setelah mandi mereka membongkar bivaknya dan packing semua barang-barangnya. Semua panitia dan peserta menuju di depan masjid besar. Disana mereka sarapan yang telah disiapkan Iwan dan Rio. Setelah sarapan mereka outbond di pandu oleh Zie. Mereka melaksanakan outbond bacalah aku. Dengan penuh tawa mereka melaksanakan itu, hingga jam 8 tepat mereka harus melaksanakan ujian terakhir yaitu bersilaturahim kepada pengurus Muhammadiyah dan Hizbul Wathan di lingkungan Jatinom itu. Mereka diiberi tugas untuk wawancara mengenai perkembangan Muhammadiyah di Jatinom dan sekaligus sosialisasi HW. Mereka diberi waktu 2 jam untuk melaksanakan tugas tersebut. Setiap kelompok diberi tugas untuk wawancara 3 pengurus yang antara kelompok satu dengan yang lain tidak boleh sama, sehingga Miftah membagi nama-nama pengurus dan mereka yang mencari sendiri.

Belum sampai jam 10.00 mereka sudah selesai melaksanakan tugas tersebut. Kemudian mereka semua pindah tempat kegiatan di SMP Muhammadiyah 2 Jatinom. Disana mereka memberikan laporan masing-masing kegiatan sekaligus evaluasi kegiatan selama 2 hari 1 malam tersebut. Jam 12.00 semua kegiatan berakhir dan makanan yang dikumpulkan panitia pada awal pemberangkatkan dibagi rata kepada seluruh peserta kembali. Mereka melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah di Masjid besar Jatinom sambil menunggu armada.

Atas kehendak Allah kegiatan berjalan dengan lancar tanpa ada halangan. Sehingga ini sebagai motivasi sekaligus media pengaktifan kembali anggota Dewan Kerabat untuk bersama-sama mensukseskan Kegiatan memperingati HUT RI ke 62(Pentas Drumband saat upacara detik-detik proklamasi dan karnaval) dan Jambore Wilayah ke 2 Tingkat Penghela di Karanganyar.

Peserta dan panitia pulang ke rumah masing-masing. Meskipun raga lelah namun jiwa berkobar semangat. “Kami Pandu Hizbul Wathan, Pandu Muhammadiyah, Quran Hadits pedomannya, Setia Janji dan Undang-undangnya, Pandu bermoral agama, tahan menghadapi tantangan, gagah perwira dalam gemblengan, pandu harapan bersama ...” (Zie).

Fastabiqul Khairat ...

4 komentar:

Post a Comment