KBIH Arafah Klaten

Orang jawa menyebut haji itu kaji. Dan kaji, dalam ngelmu othak-athik gathuk (ilmu mencocok-cocokkan bunyi dan makna), terkait dengan kajen. Kaji itu kajen, terhormat. Tuntutan kultural kita pun jelas jadinya, tiap haji harus terhormat. Naik haji atas biaya dinas, atau membayar sendiri dengan susah payah menabung bertahun-tahun, atau berkat hadiah orang lain, atau berkat sawahe payu, tuntutan kulturalnya sama: mereka diminta menjadi warga terhormat di masyarakat.


Dalam bahasa agama, haji yang terhormat itu barangkali lebih tepat disebut dengan haji yang mabrur. Secara lugas dapat dikatakan haji yang mabrur adalah haji yang melahirkan transformasi keshalehan dari setiap para haji setelah kembali dari tanah suci. Dalam Islam yang disebut orang shaleh bukan sekedar orang yang baik di dalam dan untuk dirinya sendiri, yang disebut keshalehan individual ala kaum sufi. Orang shaleh dalam Islam adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, serta senantiasa menyegerakan perbuatan-perbuatan dan hal-hal yang baik (Q.S. Ali Imran: 114). Dengan demikian keshalehan itu bersifat total dan multifungsional dalam kehidupan, atau sering diistilahkan dengan keshalehan individual dan keshalehan sosial.

Kemabruran haji akan tercermin ketika kita bergumul dalam kehidupan keseharian, meningkat ibadah kepada Allah yang bersifat mahdhah, sekaligus ibadah yang bersifat mu’amalah yang menghasilkan gerak sosial keshalehan. Haji yang terhormat (mabrur) adalah haji yang shaleh secara individu juga shaleh secara sosial

Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Arafah Kabupaten Klaten menerima Pendaftaran Bimbingan Haji di Sekretariat Kantor PDM Klaten, Jl. Wijaya Kusuma No. 8 Klaten.




2 komentar:

Post a Comment